Teks Khutbah Jum’at “Saat Hati Diuji: Rindu Baitullah dan Rasulullah ﷺ”
Teks Khutbah Jum’at
“Saat Hati Diuji: Rindu Baitullah dan Rasulullah ﷺ”
Oleh Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.
(Wakil Ketua 1 STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta, CEO adaustadzh.com,
Ketua Umum PP HDMI, Direktur Ma’had Aly Raudhotul Qur’an Azzam Sako)
Khutbah ke-1
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ، وَجَعَلَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ شَوْقًا إِلَى بَيْتِهِ، وَمَحَبَّةً لِنَبِيِّهِ الْمُصْطَفَى. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللّٰهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْقَاءِ اللّٰهِ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menanamkan dalam hati orang-orang beriman kerinduan kepada rumah-Nya yang suci dan kecintaan kepada Rasul-Nya yang mulia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia yang paling kita cintai setelah Allah, pembawa petunjuk, rahmat, dan jalan keselamatan.
Marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah. Sebab rindu yang tidak dibimbing takwa dapat berhenti sebagai perasaan, sedangkan rindu yang dibimbing iman akan berubah menjadi doa, persiapan, ketaatan, dan keteladanan.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengangkat tema: “Saat Hati Diuji: Rindu Baitullah dan Rasulullah ﷺ.” Tema ini dekat dengan kehidupan banyak kaum Muslimin. Ada yang pernah melihat Ka’bah lalu ingin kembali. Ada yang belum pernah sampai ke Tanah Suci, tetapi setiap melihat Masjidil Haram, air matanya mengalir. Ada pula yang sangat ingin berziarah ke Masjid Nabawi, berdiri dengan penuh adab, mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kerinduan kepada Baitullah bukan perasaan yang asing. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam pernah berdoa agar hati manusia condong dan merindukan keluarga yang beliau tempatkan di lembah Makkah.
فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Kata “tahwi” menggambarkan hati yang condong, tertarik, dan ingin segera menuju ke sana. Karena itu, rindu kepada Baitullah dapat menjadi tanda hidupnya iman. Demikian pula cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bagian dari kesempurnaan iman. Beliau bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun bagaimana cara mengobati rindu itu agar tidak hanya menjadi kesedihan? Ada empat jalan yang dapat kita tempuh.
- Menjadikan rindu sebagai doa, taubat, dan niat yang sungguh-sungguh
Rindu pertama-tama harus dibawa kepada Allah. Jangan hanya mengeluh karena belum mampu berangkat. Jangan hanya membandingkan diri dengan orang lain yang telah berkali-kali umrah. Sampaikan kerinduan itu dalam sujud, doa, dan munajat. Mohonlah kepada Allah agar dibukakan jalan dari arah yang tidak disangka-sangka.
Kita boleh berdoa dengan kalimat yang sederhana: “Ya Allah, karuniakanlah kepadaku kesempatan mengunjungi Bait-Mu yang suci dan Masjid Nabi-Mu dengan rezeki yang halal, tubuh yang sehat, serta ibadah yang Engkau terima.” Doa itu hendaknya disertai taubat, sebab perjalanan menuju Tanah Suci bukan semata perjalanan badan, tetapi perjalanan hati untuk kembali kepada Allah.
Bagi yang pernah berhaji atau berumrah, kerinduan untuk kembali hendaknya menjadi dorongan memperbarui taubat dan menjaga bekas ibadah. Jangan sampai kaki pernah menginjak tanah haram, tetapi hati kembali jauh dari ketaatan. Jangan sampai pernah menangis di depan Ka’bah, tetapi setelah pulang mudah menzalimi, berdusta, dan menyakiti orang lain.
- Menjadikan rindu sebagai persiapan nyata menuju Baitullah
Rindu yang benar melahirkan langkah. Allah mewajibkan haji bagi orang yang memiliki kemampuan. Karena itu, kerinduan kepada Baitullah perlu diterjemahkan menjadi ikhtiar yang terencana.
وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (QS. Ali ‘Imran: 97)
Mulailah menabung sedikit demi sedikit dari rezeki yang halal. Pelajari manasik agar ibadah tidak dilakukan hanya berdasarkan kebiasaan orang lain. Jaga kesehatan, selesaikan kewajiban dan utang, siapkan dokumen, serta pilih perjalanan yang aman dan dapat dipercaya. Jangan meremehkan nominal kecil yang disisihkan dengan istiqamah, sebab Allah dapat membesarkan langkah yang dimulai dengan niat tulus.
Persiapan terpenting adalah bekal takwa. Tanpa takwa, seseorang mungkin sampai ke Makkah, tetapi tidak sampai kepada perubahan. Ia mungkin melihat Ka’bah, tetapi tidak melihat kebesaran Allah. Ia mungkin mengelilingi Baitullah, tetapi hatinya masih berputar mengelilingi dunia, pujian, dan kepentingan diri.
- Memperbanyak shalawat dan menghidupkan sirah Rasulullah ﷺ
Kerinduan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diobati dengan memperbanyak shalawat, bukan hanya ketika berada di Madinah, tetapi di mana pun kita berada. Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, lalu Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau.
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
Selain shalawat, hidupkan sirah beliau di rumah dan majelis kita. Pelajari bagaimana beliau beribadah, memimpin, berdagang, mendidik keluarga, memaafkan musuh, menyayangi anak-anak, dan memperhatikan kaum lemah. Semakin kita mengenal Rasulullah, semakin dalam cinta kita. Cinta yang berilmu akan menjaga kita dari sikap berlebihan dan dari kecintaan yang hanya berupa slogan.
- Membuktikan cinta dengan mengikuti sunnah dan meneladani akhlak beliau
Puncak pengobat rindu kepada Rasulullah adalah mengikuti petunjuknya. Air mata karena rindu adalah mulia, tetapi bukti cinta yang paling kuat ialah ketaatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Karena itu, orang yang rindu kepada Rasulullah hendaknya menjaga shalat, kejujuran, amanah, kasih sayang, adab kepada orang tua, kelembutan kepada keluarga, dan kepedulian kepada sesama. Jangan mengaku cinta kepada Nabi, tetapi lisan gemar mencela. Jangan mengaku rindu Madinah, tetapi rumah dipenuhi pertengkaran. Jangan mengaku ingin dekat dengan Rasulullah, tetapi sunnahnya ditinggalkan ketika bertentangan dengan hawa nafsu.
Jarak yang jauh dari Makkah dan Madinah tidak menghalangi kedekatan dengan Allah dan Rasul-Nya. Ka’bah selalu kita hadapi dalam shalat. Rasulullah selalu kita ikuti dalam ibadah dan akhlak. Orang yang belum mampu berangkat tetap dapat mendekat melalui ketaatan. Orang yang telah berangkat wajib menjaga kerinduannya dengan istiqamah setelah kembali.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Rindu Baitullah dan Rasulullah adalah anugerah. Jangan biarkan rindu itu berubah menjadi putus asa. Obatilah dengan empat jalan: doa dan taubat, persiapan nyata, shalawat dan sirah, serta mengikuti sunnah dan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semoga Allah memanggil kita menjadi tamu-Nya, mengizinkan kita beribadah di Masjidil Haram, menunaikan shalat di Masjid Nabawi, dan mengumpulkan kita bersama Rasulullah di surga-Nya.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
