Teks Khutbah Jum’at “Meraih Empat Keutamaan Kurban Terbaik di Sisi Allah”
Teks Khutbah Jum’at
“Meraih Empat Keutamaan Kurban Terbaik di Sisi Allah”
Oleh Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.
(Wakil Ketua 1 STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta, CEO adaustadzh.com, Direktur surat kabar lintasiman.com, Ketua Umum PP HDMI, Direktur Ma’had Aly Raudhotul Qur’an Azzam Sako Banyuasin)
Khutbah ke-1
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Hadirin Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah
Alhamdulillah, marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesehatan, sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul di rumah Allah untuk menunaikan ibadah shalat Jumat.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Ketakwaan itu diwujudkan dengan menjalankan segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, takut akan azab-Nya, dan berharap
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Ketakwaan itu bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan—salah satunya melalui ibadah kurban.
Sebentar lagi kita akan menghadapi hari-hari mulia. Maka penting bagi kita untuk bertanya: apakah kurban kita hanya rutinitas, atau benar-benar menjadi jalan mendekat kepada Allah?
Allah ﷻ berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa kurban adalah ibadah besar yang disandingkan dengan shalat.
Pertama: Kurban adalah amalan yang dicintai Allah
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa tidak ada amalan pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah hewan kurban.
Disebutkan dalam sebagian kitab:
« «مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ…»[1]
Hadis ini dinukil dalam berbagai literatur klasik, seperti Rawḍat al-Mumti‘, Maṣābīḥ al-Sunnah, dan al-Muqaddimāt al-Mumahhidāt. Walaupun sebagian ulama menilai sanadnya lemah, namun maknanya didukung oleh praktik Rasulullah ﷺ yang senantiasa berkurban.
Ini menunjukkan bahwa kurban adalah ibadah yang sangat dicintai Allah.
Kedua: Kurban menjadi sarana meraih ridha Allah
Jamaah sekalian,
Allah ﷻ tidak melihat daging dan darahnya, tetapi melihat hati kita.
Allah berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Para ulama tafsir seperti Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa yang diterima oleh Allah hanyalah ketakwaan yang ada di dalam hati[2].
Begitu pula Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menegaskan bahwa tujuan kurban bukan dagingnya, tetapi taqarrub kepada Allah[3].
Ketiga: Kurban adalah ibadah taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Hakikat kurban adalah mendekat kepada Allah.
Sebagaimana dijelaskan dalam fatwa Dar al-Ifta al-Misriyyah:
“إراقة الدم نوع من أنواع القرب إلى الله…”
“Mengalirkan darah (kurban) adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah.”[4]
Demikian pula para ulama menegaskan bahwa hikmah kurban bukan sekadar memperoleh daging, tetapi mendekatkan diri kepada Allah melalui penyembelihan[5].
Maka ketika kita berkurban, sejatinya kita sedang belajar melepaskan kecintaan dunia demi meraih kedekatan dengan Allah.
Keempat: Kurban mendatangkan pahala yang besar
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dalam sebagian riwayat disebutkan:
«لكل شعرة حسنة»
“Setiap rambut (hewan kurban) bernilai kebaikan.”[6]
Walaupun riwayat ini dinilai sangat lemah oleh para ahli hadis, namun ia dikenal dalam literatur klasik.
Para ulama juga menegaskan bahwa pahala kurban sangat besar. Bahkan dianjurkan memilih hewan terbaik, karena tidak ada satu pun dari pengorbanan itu yang sia-sia di sisi Allah[7].
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Jadikan ibadah kurban sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan memperkuat keikhlasan.
Semoga Allah menerima kurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang dekat dengan-Nya.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Referensi
- Lihat: Rawḍat al-Mumti‘ fī Takhrīj Aḥādīth al-Rawḍ al-Murbi‘; Maṣābīḥ al-Sunnah; al-Muqaddimāt al-Mumahhidāt.
- Mafātīḥ al-Ghayb.
- Durūs li-l-Shaykh al-‘Uthaymīn; al-Liqā’ al-Shahrī.
- Fatāwā Dār al-Iftā’ al-Miṣriyya.
- Durūs al-‘Uthaymīn; al-Liqā’ al-Shahrī.
- Nuzhat al-Majālis; al-Tāj al-Manẓūm.
- al-Muqaddimāt al-Mumahhidāt karya Ibn Rusyd al-Jadd.
[1] Hadis keutamaan menyembelih kurban pada hari Nahr diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dalam Kitāb al-Aḍāḥī, Bāb fī Faḍl al-Uḍḥiyah, no. 1493; Ibn Mājah dalam Kitāb al-Aḍāḥī, Bāb Thawāb al-Uḍḥiyah, no. 3126; juga diriwayatkan oleh Ibn Ḥibbān dalam al-Ḍu‘afā’ (3/151), al-Ḥākim (4/221–222), al-Bayhaqī (9/261), dan al-Baghawī dalam Sharḥ al-Sunnah (4/342, no. 1124). Sanadnya melalui ‘Abdullāh bin Nāfi‘ al-Ṣā’igh dari Abī al-Muthannā Sulaimān bin Yazīd, dari Hishām bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Āisyah. Lihat juga: Rawḍat al-Mumtiʿ fī Takhrīj Aḥādīth al-Rawḍ al-Murabbaʿ, 3/662; serta Maṣābīḥ al-Sunnah, 1/494; dan al-Muqaddimāt al-Mumahhidāt, 1/435.
[2] Penegasan bahwa yang diterima Allah adalah ketakwaan terdapat dalam QS. Al-Ḥajj: 37, yang ditafsirkan oleh Mafātīḥ al-Ghayb (11/338) bahwa “yang sampai kepada Allah hanyalah ketakwaan, dan ketakwaan adalah sifat hati.”
[3] Penjelasan bahwa tujuan kurban adalah taqarrub (pendekatan diri kepada Allah), bukan sekadar daging, ditegaskan oleh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Durūs li-l-Shaykh al-ʿUthaymīn (5/4) dan al-Liqāʾ al-Shahrī, yang menegaskan bahwa hikmah utama kurban adalah التقرب إلى الله تعالى بالذبح
[4] Makna kurban sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah juga ditegaskan dalam Fatāwā Dār al-Iftāʾ al-Miṣriyya (1/215), bahwa “إراقة الدم نوع من أنواع القرب إلى الله” dan merupakan salah satu syi’ar Islam.
[5] Tafsir tambahan tentang pentingnya niat dan keikhlasan dalam kurban dapat dilihat dalam al-Kashshāf (3/159), yang menjelaskan bahwa Allah tidak meridhai kurban kecuali dengan niat dan ketakwaan.
[6] Riwayat tentang “setiap rambut bernilai kebaikan” disebutkan dalam Nuzhat al-Majālis wa Muntakhab al-Nafāʾis (1/175) dan al-Tāj al-Manẓūm (3/137), meskipun para ulama hadis menilainya sangat lemah.
[7] Anjuran memilih hewan kurban terbaik serta penegasan bahwa tidak ada bagian dari kurban yang sia-sia disebutkan dalam al-Muqaddimāt al-Mumahhidāt (1/435), yang menyatakan bahwa seluruh bagian kurban akan dibalas dan tidak hilang pahalanya.
