Teks Khutbah Jum’at  “Keteguhan dan Solidaritas di Masa Krisis”   
7 mins read

Teks Khutbah Jum’at “Keteguhan dan Solidaritas di Masa Krisis”  

Oleh: Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.

(Wakil Ketua 1 STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta, CEO adaustadzh.com, Direktur surat kabar lintasiman.com, Ketua Umum PP HDMI, Direktur Ma’had Aly Raudhotul Qur’an Azzam Sako Banyuasin)

Khutbah ke-1

الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Alhamdulillah, marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan sehingga kita dapat berkumpul di masjid ini dalam rangka menunaikan ibadah shalat Jumat, Semoga  kita senantiasa semakin mengingkat ketaqwaan dan keimanan kepada Allah swt. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam masa aman maupun masa penuh ujian. Pada hari ini, khatib mengajak diri khatib dan seluruh jamaah untuk merenungkan tema: Keteguhan dan Solidaritas di Masa Krisis.

Kita hidup dalam masa yang tidak ringan. Banyak keluarga merasakan tekanan ekonomi: harga kebutuhan meningkat, lapangan pekerjaan tidak mudah, pendapatan sebagian masyarakat menurun, dan keadaan bangsa sering diwarnai kecemasan. Dalam suasana seperti ini, seorang mukmin tidak boleh kehilangan arah. Krisis bukan hanya soal angka, kebijakan, dan pasar; krisis juga menjadi ujian iman, ujian akhlak, ujian amanah, dan ujian kepedulian sosial.

Pertama: Krisis adalah ujian, bukan alasan untuk putus asa

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Baqarah: 155)

 

Ayat ini mengajarkan bahwa rasa takut, kesulitan ekonomi, kekurangan harta, bahkan keguncangan sosial adalah bagian dari ujian Allah. Namun, Allah tidak menutup ayat itu dengan ancaman, melainkan dengan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Sabar bukan berarti pasif. Sabar adalah keteguhan hati untuk tetap berada di jalan Allah, tetap bekerja, tetap berdoa, tetap menjaga kejujuran, dan tidak menempuh jalan haram.

Maka saat hidup terasa berat, jangan biarkan lidah kita dipenuhi keluhan tanpa doa. Jangan biarkan hati kita dipenuhi prasangka buruk kepada Allah. Sebab Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Di balik kesulitan, Allah membuka pintu pahala, pintu perbaikan, dan pintu kedewasaan iman.

Kedua: Jalan keluar dimulai dari takwa, tawakal, dan ikhtiar

وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

(QS. Ath-Thalaq: 2-3)

 

Jamaah yang dimuliakan Allah, ayat ini memberi harapan besar. Jalan keluar tidak hanya datang dari kecerdasan manusia, koneksi, atau kekuatan materi. Jalan keluar juga datang dari takwa. Takwa membuat seseorang berhati-hati dalam mencari rezeki, jujur dalam pekerjaan, amanah dalam jabatan, dan tidak mengorbankan agama demi keuntungan sesaat.

Tawakal juga bukan berarti duduk tanpa usaha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa jika kita bertawakal dengan benar, Allah akan memberi rezeki seperti burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang. Burung itu tidak diam di sarang; ia bergerak, berusaha, dan tetap bergantung kepada Allah.

Karena itu, di masa krisis, umat Islam harus memperkuat tiga hal: doa yang sungguh-sungguh, kerja yang halal dan profesional, serta tawakal yang benar kepada Allah. Jangan berhenti belajar. Jangan malas mencari peluang. Jangan merendahkan pekerjaan halal. Selama halal dan bermanfaat, pekerjaan itu mulia di sisi Allah.

Ketiga: Jangan menjadikan krisis sebagai pintu keharaman

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 188)

 

Di tengah ekonomi yang tidak stabil, godaan mencari jalan pintas semakin besar: riba, penipuan, judi online, korupsi, manipulasi data, menahan hak pekerja, mengurangi timbangan, dan mengambil yang bukan haknya. Semua itu mungkin tampak sebagai jalan keluar cepat, tetapi sebenarnya ia adalah pintu kehancuran.

Rezeki yang haram tidak akan membawa ketenangan. Harta yang diperoleh dengan zalim mungkin menambah angka di rekening, tetapi mengurangi keberkahan dalam keluarga. Karena itu, umat Islam harus menjaga prinsip: lebih baik sedikit tetapi halal dan berkah, daripada banyak tetapi menjadi sebab murka Allah.

Keempat: Solidaritas adalah kekuatan umat di masa sulit

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

(QS. Al-Ma’idah: 2)

 

Ayat ini menegaskan bahwa umat tidak boleh hidup sendiri-sendiri. Ketika sebagian saudara kita lapar, kehilangan pekerjaan, terlilit utang, atau kesulitan membayar pendidikan anak, maka jamaah, masjid, keluarga besar, dan masyarakat harus hadir. Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat kepedulian. Majelis taklim bukan hanya tempat mendengar nasihat, tetapi juga tempat menguatkan saudara yang lemah.

قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah solidaritas Islam. Yang mampu membantu yang lemah. Yang punya pekerjaan membuka peluang bagi yang belum bekerja. Yang punya ilmu membimbing yang belum mampu. Yang memiliki kelebihan harta menunaikan zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Yang tidak memiliki harta tetap bisa membantu dengan tenaga, doa, nasihat, dan perhatian.

Kelima: Krisis bangsa membutuhkan amanah dan keadilan

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”

(QS. An-Nisa’: 58)

 

Negara yang sedang menghadapi krisis membutuhkan pemimpin yang amanah, pejabat yang jujur, pengusaha yang tidak menindas, pekerja yang profesional, ulama yang menasihati dengan hikmah, dan rakyat yang menjaga akhlak. Keadilan adalah fondasi ketahanan bangsa. Jika amanah dikhianati, yang lemah akan semakin lemah dan yang kuat akan semakin sewenang-wenang.

Namun kita juga harus ingat, memperbaiki bangsa tidak hanya dengan menyalahkan orang lain. Perbaikan dimulai dari diri sendiri: jujur dalam keluarga, disiplin dalam pekerjaan, amanah dalam tanggung jawab, tidak menyebarkan fitnah, tidak memecah belah umat, serta terus mendoakan kebaikan bagi negeri ini.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, dari khutbah ini marilah kita membawa pulang lima pesan. Pertama, hadapi krisis dengan iman dan sabar. Kedua, cari jalan keluar dengan takwa, tawakal, dan kerja halal. Ketiga, jauhi harta haram meskipun keadaan sulit. Keempat, kuatkan solidaritas sosial melalui zakat, infak, sedekah, wakaf, dan kepedulian nyata. Kelima, jaga amanah dan keadilan agar kehidupan masyarakat dan bangsa menjadi lebih baik.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pada khutbah kedua ini, marilah kita memperbanyak doa. Semoga Allah meneguhkan hati kita, melapangkan rezeki yang halal, menolong saudara-saudara kita yang sedang kesulitan, dan memperbaiki keadaan bangsa kita. Jangan biarkan krisis membuat kita saling mencurigai, saling menjatuhkan, dan saling memutuskan hubungan. Jadilah umat yang saling menguatkan.

Mulai hari ini, mari kita hidupkan kepedulian dari lingkungan terdekat: perhatikan tetangga, bantu keluarga yang kesulitan, kuatkan program sosial masjid, dorong usaha kecil, belanja kepada saudara yang membutuhkan, tunaikan zakat dengan benar, dan biasakan sedekah meskipun sedikit. Sebab sedekah bukan hanya mengurangi beban orang lain, tetapi juga membuka pintu keberkahan bagi pemberinya.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَوَسِّعْ أَرْزَاقَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْ أَرْزَاقَنَا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا.

اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ هُمُوْمَ المَهْمُوْمِيْنَ، وَنَفِّسْ كُرُوْبَ المَكْرُوْبِيْنَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ المَدِيْنِيْنَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى المُسْلِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا، وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ، مِنَ الفِتَنِ وَالفَقْرِ وَالغَلَاءِ وَالفَوْضَى وَسُوْءِ الأَخْلَاقِ. اَللّٰهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَارْزُقْهُمُ العَدْلَ وَالأَمَانَةَ وَالرَّحْمَةَ بِالرَّعِيَّةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *