Teks Khutbah Jum’at  “HAKIKAT KEMERDEKAAN DAN KEBEBASAN MENURUT AL-QUR’AN”  Oleh Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.
10 mins read

Teks Khutbah Jum’at “HAKIKAT KEMERDEKAAN DAN KEBEBASAN MENURUT AL-QUR’AN” Oleh Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.

Teks Khutbah Jum’at

“HAKIKAT KEMERDEKAAN DAN KEBEBASAN MENURUT AL-QUR’AN”

Oleh Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.

(Wakil Ketua 1 STAI  Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta, CEO adaustadzh.com, Direktur surat kabar lintasiman.com,  Ketua Umum PP HDMI, Direktur Ma’had Aly Raudhotul Qur’an Azzam Sako Banyuasin, Kacab Safana Depok)

 

Khutbah ke-1

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللّٰهِ خَيْرُ زَادٍ لِلِقَاءِ اللّٰهِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kehidupan, dan nikmat kemerdekaan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat.

Marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa: melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Sebab kemerdekaan yang paling agung bukan hanya ketika tubuh terbebas dari penjajahan, tetapi ketika hati terbebas dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah.

Beberapa hari yang lalu bangsa kita memperingati kemerdekaan. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat hidup di negeri yang merdeka. Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa seseorang dapat hidup di negeri yang merdeka, sementara jiwanya masih dijajah: dijajah oleh harta, hawa nafsu, gengsi, tekanan manusia, kebiasaan buruk, dan dosa.

Karena itu, pada kesempatan yang mulia ini khatib mengangkat tema: “HAKIKAT KEMERDEKAAN DAN KEBEBASAN MENURUT AL-QUR’AN.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam pandangan Al-Qur’an, kemerdekaan bukanlah kebebasan tanpa batas. Kemerdekaan adalah terbebasnya manusia dari penghambaan kepada selain Allah, sedangkan kebebasan adalah kemampuan memilih jalan yang benar, bermanfaat, membawa ridha Allah, dan mengantarkan kepada keselamatan dunia serta akhirat.

PERTAMA: MERDEKA DARI PENGHAMBAAN KEPADA MATERI MENUJU PENGHAMBAAN KEPADA ALLAH

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Hakikat kemerdekaan yang pertama adalah ketika manusia tidak lagi menjadi budak materi. Islam tidak melarang harta, usaha, kekayaan, jabatan, dan kemajuan. Semua itu dapat menjadi nikmat dan sarana kebaikan. Yang dilarang adalah ketika materi berubah dari alat menjadi tuan; ketika halal dan haram ditentukan oleh keuntungan; ketika shalat dikalahkan oleh kesibukan; ketika kehormatan dikorbankan demi uang; dan ketika kebahagiaan hanya diukur dari apa yang dimiliki.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Ayat ini meletakkan pusat kehidupan seorang mukmin: kita diciptakan untuk menjadi hamba Allah, bukan hamba harta, bukan hamba popularitas, bukan hamba kedudukan, dan bukan hamba keinginan manusia.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

“Celakalah hamba dinar dan dirham; apabila diberi ia ridha, dan apabila tidak diberi ia tidak ridha.” (HR. Bukhari).

Perhatikan ungkapan Nabi ﷺ: “hamba dinar”. Harta yang seharusnya berada di tangan dapat menguasai hati. Orang merdeka secara Qur’ani adalah orang yang mampu memiliki dunia tanpa dimiliki oleh dunia. Ia mencari rezeki, tetapi tidak menjual agamanya. Ia bekerja keras, tetapi tidak meninggalkan shalat. Ia bercita-cita tinggi, tetapi tetap tawadhu dan bersyukur.

Maka tanyakan kepada diri kita: apakah harta berada di tangan kita, atau sudah masuk menguasai hati kita? Jika uang dapat mengubah halal menjadi haram di mata kita, berarti ada bagian jiwa yang belum merdeka.

KEDUA: MERDEKA DARI DOMINASI KEHENDAK MANUSIA YANG BERTENTANGAN DENGAN KEHENDAK ALLAH

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Hakikat kemerdekaan yang kedua adalah ketika seseorang tidak menyerahkan arah hidupnya kepada tekanan manusia. Banyak orang sebenarnya mengetahui kebenaran, tetapi takut berbeda. Mengetahui yang halal, tetapi mengikuti lingkungan. Mengetahui yang salah, tetapi takut kehilangan teman, jabatan, pelanggan, atau penerimaan sosial.

Allah ﷻ memberikan perumpamaan yang sangat indah:

ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا رَّجُلًۭا فِيهِ شُرَكَآءُ مُتَشَـٰكِسُونَ وَرَجُلًۭا سَلَمًۭا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Allah membuat perumpamaan seorang hamba yang dimiliki beberapa orang yang berselisih dan seorang hamba yang hanya menjadi milik seorang saja. Apakah keduanya sama keadaannya?” (QS. Az-Zumar: 29).

Hati yang tunduk kepada banyak “tuan” akan selalu gelisah. Hari ini takut komentar orang, besok takut kehilangan keuntungan, lusa takut tidak dianggap. Tetapi hati yang mengabdi hanya kepada Allah memiliki arah yang jelas: apakah Allah ridha atau tidak? Apakah ini halal atau haram? Apakah ini benar atau batil?

Namun kemerdekaan seperti ini bukan berarti menolak nasihat, aturan, orang tua, guru, atau pemimpin. Islam justru mengajarkan ketaatan dalam perkara yang baik. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, seorang mukmin menghormati manusia tanpa menyembah penilaian manusia. Ia taat dalam kebaikan, tetapi tidak mengikuti siapa pun dalam maksiat kepada Allah. Inilah jiwa yang merdeka: tetap santun kepada manusia, tetapi loyalitas tertingginya hanya kepada Allah.

KETIGA: MERDEKA DARI PERKARA YANG MENDATANGKAN MURKA ALLAH MENUJU PERKARA YANG DIRIDHAI-NYA

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hakikat kemerdekaan yang ketiga adalah kemampuan meninggalkan sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah dan memilih jalan yang diridhai-Nya. Tidak semua yang dapat dilakukan layak dilakukan. Tidak semua yang disukai nafsu membawa kebaikan. Tidak semua yang dianggap biasa oleh masyarakat menjadi benar di sisi Allah.

Allah ﷻ berfirman:

أَفَمَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَ ٱللَّهِ كَمَنۢ بَآءَ بِسَخَطٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ وَمَأْوَىٰهُ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ

“Maka apakah orang yang mengikuti keridaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya adalah Jahanam? Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Ali ‘Imran: 162).

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap pilihan memiliki arah: menuju ridha atau menuju murka. Karena itu, kemerdekaan seorang mukmin bukan sekadar “saya bebas memilih”, tetapi “saya memilih apa yang membuat Allah ridha”.

Kita bebas berbicara, tetapi jangan gunakan lisan untuk fitnah dan ghibah. Kita bebas menggunakan media sosial, tetapi jangan menjadikannya jalan membuka aib, menyebarkan dusta, dan merusak kehormatan orang lain. Kita bebas mencari harta, tetapi jangan memilih riba, penipuan, atau penghasilan haram. Kita bebas bergaul, tetapi jangan melanggar batas-batas yang ditetapkan Allah.

Merdeka berarti mampu berkata: “Saya tinggalkan ini bukan karena saya tidak mampu melakukannya, tetapi karena saya lebih memilih ridha Allah.”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Setelah memahami tiga hakikat kemerdekaan, Al-Qur’an juga memberikan ukuran agar kebebasan tidak berubah menjadi kerusakan. Kebebasan yang benar memiliki tujuan, batas, dan tanggung jawab.

KEEMPAT: KEBEBASAN YANG MELAHIRKAN MANFAAT DAN MASLAHAT

Kebebasan yang Qur’ani adalah kebebasan yang menghasilkan kebajikan, takwa, dan kemaslahatan. Allah ﷻ berfirman:

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ

“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Ayat ini menjadi ukuran sosial bagi kebebasan. Kebebasan yang benar memperbanyak kebaikan dan mengurangi kerusakan. Ia menjaga hak diri sendiri sekaligus hak orang lain. Ia membangun keluarga, bukan menghancurkannya. Ia menguatkan persaudaraan, bukan menyalakan permusuhan. Ia melahirkan ilmu, karya, pelayanan, dan kepedulian.

Karena itu, sebelum menggunakan kebebasan, tanyakan: apakah pilihan ini membawa manfaat atau mudarat? Apakah ucapan ini menyelesaikan masalah atau memperbesar pertengkaran? Apakah keputusan ini menolong orang atau justru merugikan? Apakah kebebasan kita membuat lingkungan lebih baik atau lebih rusak?

Kebebasan tanpa maslahat dapat berubah menjadi egoisme. Sedangkan kebebasan yang dibimbing wahyu menjadi jalan untuk menghadirkan rahmat bagi diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

KELIMA: KEBEBASAN YANG MENGHANTARKAN KEPADA SURGA DAN RIDHA ALLAH

Jamaah rahimakumullah,

Ukuran berikutnya sangat jelas: kebebasan yang benar harus mengantarkan kita semakin dekat kepada surga, bukan semakin dekat kepada neraka. Allah ﷻ berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41).

Perhatikan: jalan menuju surga justru disebut dengan kemampuan menahan hawa nafsu. Artinya, kebebasan sejati bukan selalu melakukan apa yang kita inginkan, tetapi memiliki kekuatan untuk tidak melakukan sesuatu ketika Allah melarangnya.

Orang yang tidak mampu berkata “tidak” kepada hawa nafsunya sesungguhnya belum bebas. Ia menjadi tawanan keinginannya sendiri. Sedangkan orang yang mampu menahan pandangan, menjaga kehormatan, menolak suap, meninggalkan riba, mengendalikan amarah, dan berhenti dari maksiat adalah orang yang sedang membebaskan dirinya.

Maka jangan ukur kebebasan dari seberapa banyak yang dapat kita lakukan. Ukurlah dari seberapa kuat kita memilih yang benar ketika yang salah begitu mudah dilakukan.

KEENAM: KEBEBASAN YANG MENINGGALKAN KEHANCURAN MENUJU KESUKSESAN

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Kebebasan terakhir adalah kebebasan yang mengeluarkan manusia dari jalan kehancuran menuju kesuksesan. Al-Qur’an menghubungkan keberuntungan dengan penyucian jiwa dan kerugian dengan pengotoran jiwa.

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10).

Kesuksesan dalam Al-Qur’an bukan hanya banyaknya harta, tingginya jabatan, atau besarnya pengaruh. Kesuksesan adalah ketika jiwa semakin bersih, iman semakin kuat, amal semakin baik, keluarga semakin terjaga, dan kehidupan semakin bermanfaat.

Karena itu, setiap kebebasan harus ditimbang dengan akibatnya. Ada kesenangan sesaat yang merusak masa depan. Ada keuntungan singkat yang menghancurkan keberkahan. Ada pergaulan yang tampak menyenangkan tetapi meruntuhkan kehormatan. Ada ucapan yang terasa bebas tetapi meninggalkan luka bertahun-tahun.

Orang merdeka adalah orang yang tidak membiarkan satu keinginan sesaat menghancurkan masa depan dunia dan akhiratnya. Ia memilih disiplin daripada kemalasan, amanah daripada pengkhianatan, ilmu daripada kebodohan, kerja keras daripada menyerah, dan taubat daripada terus tenggelam dalam dosa.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita simpulkan khutbah ini dengan enam pertanyaan untuk mengukur kemerdekaan diri kita: Pertama, apakah kita menguasai harta atau justru harta menguasai kita? Kedua, apakah keputusan kita tunduk kepada Allah atau tunduk kepada tekanan manusia? Ketiga, apakah pilihan kita mendekatkan kepada ridha atau murka Allah? Keempat, apakah kebebasan kita melahirkan manfaat atau mudarat? Kelima, apakah jalan yang kita pilih mendekatkan kepada surga atau neraka? Keenam, apakah kebebasan kita membawa kepada kesuksesan atau kehancuran?

Bangsa yang benar-benar merdeka membutuhkan manusia-manusia yang jiwanya merdeka. Kemerdekaan tidak cukup dirayakan dengan upacara dan slogan; ia harus diisi dengan iman, ilmu, kejujuran, amanah, kerja keras, kepedulian, persatuan, dan tanggung jawab. Jika jiwa merdeka dari syirik, kerakusan, hawa nafsu, dan dosa, insya Allah kemerdekaan akan melahirkan keberkahan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang hanya tunduk kepada-Nya, menggunakan kebebasan untuk kebaikan, dan mengisi kemerdekaan dengan amal yang mendatangkan ridha-Nya.

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah memperoleh kemenangan.” (QS. Ali ‘Imran: 185).

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الْحُرِّيَّةِ مَا قَادَ إِلَى طَاعَةِ اللهِ، وَخَيْرَ الْفَوْزِ مَا قَادَ إِلَى رِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ عِبَادًا مُخْلِصِينَ، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَأَعِذْنَا مِنْ عُبُودِيَّةِ الْمَالِ وَالْهَوَى وَالشَّهَوَاتِ، وَارْزُقْنَا حُرِّيَّةً تَقُودُنَا إِلَى طَاعَتِكَ وَرِضْوَانِكَ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا وَدُنْيَانَا وَآخِرَتَنَا، وَأَصْلِحْ أُسَرَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَمُجْتَمَعَنَا.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، رَخَاءً سَخَاءً، وَاحْفَظْ أَهْلَهَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْبَلَاءِ وَالْفَسَادِ، وَوَفِّقْنَا لِعِمَارَةِ الْوَطَنِ بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ وَالْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *