TEKS KHUTBAH JUM’AT MENOLAK KONSER ANDREA BOCELLI: SERUAN SOLIDARITAS SELURUH ELEMEN BANGSA UNTUK PALESTINA
TEKS KHUTBAH JUM’AT
MENOLAK KONSER ANDREA BOCELLI: SERUAN SOLIDARITAS SELURUH ELEMEN BANGSA UNTUK PALESTINA
“Menegakkan Keadilan, Menolak Normalisasi Dukungan terhadap Zionisme, dan Menjaga Kultur Bangsa”
Oleh
Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.
Ketua Umum PP Himpunan Dai Muda Indonesia
Periode 2026–2030
Jakarta | 28 Oktober 2026
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ .
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, saya berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah sekalian: marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan sesama, menyikapi ketidakadilan, menyampaikan pendapat, dan menggunakan amanah yang Allah titipkan.
Pada Jumat ini, marilah kita meneguhkan sikap dengan tema “Menolak Konser Andrea Bocelli: Konsisten Membela Palestina.” Terlebih, kita baru saja memperingati Hari Sumpah Pemuda, sebuah momentum bersejarah yang mengajarkan kepada kita tentang persatuan, kesatuan, dan komitmen untuk menjaga kehormatan bangsa. Sungguh menyedihkan apabila di tengah semangat persatuan dan cita-cita luhur bangsa untuk menghapuskan penjajahan, justru muncul penyelenggaraan konser yang dipersoalkan dalam konteks solidaritas Palestina dan dugaan keterkaitannya dengan dukungan terhadap Zionisme. Karena itu, penolakan ini tidak semestinya dipandang hanya sebagai sikap satu organisasi, melainkan sebagai seruan moral kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), seluruh organisasi kemasyarakatan Islam maupun lintas agama, tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa, dan seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menyuarakan solidaritas bagi rakyat Palestina. Sikap ini bukanlah kebencian kepada seseorang karena bangsa atau identitasnya, melainkan penegasan bahwa bangsa Indonesia, yang konstitusinya menolak segala bentuk penjajahan, harus senantiasa konsisten membela hak asasi manusia, menentang penindasan, dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan cara yang damai, bermartabat, dan bertanggung jawab.
Pertama: Membela yang tertindas adalah panggilan iman
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ
“Mengapa kamu tidak (berjuang) di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak…” (QS. An-Nisa’ [4]: 75, petikan ayat).
Ayat ini mengingatkan bahwa penderitaan orang-orang lemah tidak boleh membuat hati kita beku. Ketika warga kehilangan rumah, anak-anak kehilangan rasa aman, dan keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, seorang mukmin tidak sepatutnya bersikap seolah-olah semua itu tidak ada. Membela kemanusiaan menuntut kepedulian, doa, bantuan nyata, dan suara yang jujur.
Palestina memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam, terutama karena di sana terdapat Masjid Al-Aqsha. Kepedulian kita tidak boleh berhenti pada simbol dan slogan. Ia harus diwujudkan melalui dukungan kemanusiaan, penyebaran informasi yang dapat dipercaya, pendidikan publik, serta upaya damai untuk mendorong penghormatan terhadap hak dan martabat rakyat Palestina.
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dalam keadaan teraniaya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, redaksi masyhur).
Hadis ini mengajarkan bahwa persaudaraan menuntut kepedulian. Kita tidak dituntut melakukan tindakan yang melanggar hukum atau menyakiti orang yang tidak bersalah. Kita dituntut membela hak, menolong korban, dan mengupayakan keadilan dengan cara yang bertanggung jawab.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Perjuangan rakyat Palestina bukan hanya konflik politik,
melainkan berjuang membela kemanusiaan, kehormatan, dan agama.
Mereka mengorbankan harta, keluarga, bahkan nyawa demi mempertahankan hak atas tanah air yang diberkahi.
Allah ﷻ berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 1)
Masjidil Aqsha bukan sekadar tempat ibadah,
melainkan simbol keberkahan, tempat para nabi, dan amanah seluruh umat Islam.
Saudara seiman,
Kini dunia sering menyaksikan berbagai perjanjian damai antara pihak penjajah Zionis dan rakyat Palestina.
Namun kita harus memahami: perdamaian tanpa keadilan bukanlah perdamaian, melainkan penipuan.
Islam tidak menolak perdamaian, tetapi menolak kezaliman yang dibungkus dengan nama perdamaian.
Allah ﷻ berfirman:
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Anfāl [8]: 61)
Namun dalam ayat lain, Allah juga memperingatkan:
فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
“Janganlah kamu lemah dan menyeru kepada perdamaian padahal kamu yang lebih unggul; Allah bersama kamu dan tidak akan mengurangi (pahala) amalmu.”
(QS. Muḥammad [47]: 35)
Artinya, perdamaian hanya berarti jika lahir dari posisi yang adil dan bermartabat, bukan dari tekanan penjajahan.
Ma’āsyiral Muslimīn,
Kita tidak boleh berpaling dari penderitaan Palestina.
Mereka adalah saudara seiman kita.
Nabi ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan empati mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka kepedulian kepada Palestina adalah ukuran keimanan dan kemanusiaan kita.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ
“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka.”
(HR. al-Ṭabarāni)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Marilah kita tunjukkan solidaritas dan kepedulian nyata kepada rakyat Palestina melalui doa dan dukungan moral, karena doa adalah senjata orang beriman; melalui infak dan bantuan kemanusiaan, sekecil apa pun yang kita berikan; serta melalui pendidikan kepada generasi muda agar mengenal sejarah perjuangan Palestina, memahami kemuliaan dan kehormatan Masjidil Aqsha, serta menumbuhkan kepedulian terhadap penderitaan saudara-saudara kita. Semoga Allah SWT memberikan kemenangan kepada rakyat Palestina, membuka hati para pemimpin dunia untuk menegakkan keadilan, menghentikan segala bentuk penjajahan dan penindasan, serta mengangkat derajat umat Islam di seluruh penjuru bumi. آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Ma’āsyiral Muslimīn Rahimakumullāh,
Kemenangan hanya akan diraih oleh umat yang beriman, bersatu, dan istiqamah.
Allah ﷻ berfirman:
إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
(QS. Muḥammad [47]: 7)
Jangan pernah lemah atau ragu menegakkan kebenaran.
Karena janji Allah pasti datang:
وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Dan sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”
(QS. Al-Ḥajj [22]: 40)
Kedua: Menolak konser sebagai sikap solidaritas dan penolakan terhadap normalisasi dukungan pro-Zionisme
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, konser Andrea Bocelli yang direncanakan berlangsung di Candi Borobudur pada 31 Oktober 2026 dan di Jakarta pada 3 November 2026 telah memunculkan aspirasi penolakan dari elemen masyarakat yang peduli terhadap Palestina. Khutbah ini menyerukan agar penolakan tersebut menjadi gerakan moral bersama: Pemerintah, Wakil Rakyat, MUI, PP HDMI, MPDI, serta ormas-ormas Islam, organisasi kemasyarakatan lainnya, tokoh agama, mahasiswa, pemuda, serta seluruh warga yang menjunjung keadilan dan kemanusiaan. Sikap kritis terhadap konser ini juga berkaitan dengan kontroversi dan dugaan dukungan pro-Zionisme yang perlu dinilai berdasarkan informasi yang dapat diverifikasi; karena itu, penyelenggara dan pihak terkait patut diminta menjelaskan persoalan tersebut secara terbuka.
Karena itu, mimbar ini menyampaikan sikap dengan tegas: konser tersebut patut ditolak dan penyelenggaraannya diminta untuk dibatalkan. Penolakan ini bukan sekadar pernyataan PP HDMI, melainkan ajakan kepada MUI, seluruh ormas, tokoh-tokoh bangsa, komunitas masyarakat, dan warga Indonesia untuk menyatakan keberpihakan kepada hak serta kemanusiaan rakyat Palestina. Aspirasi disampaikan melalui cara damai, tertib, bermartabat, dan sesuai hukum; tidak dengan kekerasan atau serangan pribadi. Penolakan diarahkan pada penyelenggaraan kegiatan dan persoalan moral yang diperdebatkan, bukan pada identitas kebangsaan seseorang.
Ketiga: Konser dan kegiatan publik harus selaras dengan nilai konstitusi serta kultur masyarakat Indonesia
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125, petikan ayat).
Jamaah yang dirahmati Allah, Indonesia berdiri di atas cita-cita kemanusiaan yang adil dan beradab. Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Prinsip konstitusional ini menjadi landasan moral bagi bangsa Indonesia untuk terus membela hak rakyat Palestina dan menolak segala bentuk penjajahan. Dalam pandangan para penolak, penyelenggaraan konser tersebut tidak selaras dengan kepekaan kemanusiaan dan solidaritas masyarakat Indonesia terhadap penderitaan Palestina. Ini merupakan penilaian moral dan seruan publik, bukan pernyataan bahwa telah ada putusan hukum yang menyatakan konser tersebut melanggar UUD 1945.
Maka, kita patut mengapresiasi suara dan sikap yang telah disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan berbagai organisasi kemasyarakatan dalam menyuarakan penolakan terhadap konser ini sebagai bagian dari kepedulian terhadap perjuangan rakyat Palestina. Sikap tersebut hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat persatuan umat dan solidaritas seluruh elemen bangsa. Kita mengajak para ulama, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, organisasi pemuda, mahasiswa, dan seluruh masyarakat Indonesia untuk terus menyuarakan pembelaan terhadap hak dan kemanusiaan rakyat Palestina. Kita juga meminta penyelenggara dan pihak berwenang agar sungguh-sungguh mempertimbangkan aspirasi masyarakat, semangat antikolonialisme dalam Pembukaan UUD 1945, serta nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang menjunjung gotong royong, kepedulian, kesantunan, dan keberpihakan kepada mereka yang tertindas, marilah kita menyampaikan aspirasi dan tuntutan pembatalan konser ini secara damai, tertib, bermartabat, dan bertanggung jawab, seraya meneguhkan komitmen bahwa pembelaan terhadap kemerdekaan Palestina bukan sekadar seruan sesaat, melainkan panggilan moral yang harus terus kita jaga.
Keempat: Konsisten membela hak dan kemanusiaan rakyat Palestina
Konsistensi membela Palestina tidak boleh berhenti pada penolakan terhadap satu konser. Kita harus terus menolak penjajahan, mendukung hak rakyat Palestina untuk hidup aman dan merdeka, membela warga sipil, serta mendorong akses bantuan kemanusiaan. Wujudkan solidaritas melalui doa, donasi melalui lembaga tepercaya, edukasi publik, diplomasi masyarakat, dan penyampaian aspirasi yang berkelanjutan. Jangan biarkan isu Palestina hanya ramai ketika ada peristiwa tertentu, lalu dilupakan setelah perhatian publik beralih.
Rasulullah ﷺ mengumpamakan kaum mukmin dalam kasih sayang seperti satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak dapat tidur (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan empati dan tanggung jawab bersama. Ketika saudara-saudara kita menderita, kepedulian seharusnya menggerakkan kita untuk membantu sesuai kemampuan.
Kepada para dai muda Indonesia, jadikan mimbar, ruang kelas, media sosial, dan ruang publik sebagai sarana membela kebenaran dan kemanusiaan. Serukan penolakan terhadap konser Andrea Bocelli secara jelas, ajak MUI, seluruh ormas dan elemen bangsa menyatukan suara demi Palestina, serta jelaskan dasar solidaritas ini dengan informasi yang dapat diverifikasi. Dorong masyarakat mengkritisi setiap bentuk dukungan terhadap penjajahan dan memperjuangkan hak rakyat Palestina melalui dakwah yang mencerahkan, aksi damai, dan bantuan kemanusiaan.
Penutup khutbah pertama
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, ada empat pesan yang perlu kita pegang: pertama, membela rakyat Palestina adalah tanggung jawab moral dan kemanusiaan; kedua, konser Andrea Bocelli harus ditolak dan penyelenggaraannya diminta dibatalkan sebagai wujud solidaritas serta sikap kritis terhadap dugaan keterkaitan dengan dukungan pro-Zionisme; ketiga, penolakan ini hendaknya menjadi seruan bersama bagi MUI, ormas-ormas, tokoh agama, dan seluruh elemen bangsa; keempat, aspirasi disampaikan secara damai, beradab, dan bertanggung jawab, dengan tetap menjunjung keadilan serta nilai kemanusiaan.
Khutbah ini menyerukan penolakan tegas terhadap konser Andrea Bocelli dan meminta agar penyelenggaraannya dibatalkan. Seruan ini tidak berhenti pada ormas-ormas islam tetapi mengajak semua elemen bangsa, organisasi kemasyarakatan lainnya, tokoh agama, pemuda, mahasiswa, dan seluruh elemen bangsa untuk berdiri bersama membela hak serta kemanusiaan rakyat Palestina. Sampaikan sikap ini secara damai, bermartabat, dan berlandaskan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan berhenti pada satu konser. Teruslah membela hak rakyat Palestina, menolak penjajahan, mendoakan mereka, membantu kebutuhan kemanusiaan melalui saluran tepercaya, dan menyuarakan keadilan. Semoga MUI, ormas-ormas, dan seluruh elemen bangsa dapat menguatkan solidaritas bersama. Semoga Allah menjadikan kita umat yang berani membela yang tertindas, teguh menolak ketidakadilan, dan tetap adil dalam perkataan maupun tindakan.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
