TEKS KHUTBAH JUMAT  ISTIQAMAH DALAM MENGAMALKAN SUNNAH UNTUK MERAIH RIDHA ALLAH
11 mins read

TEKS KHUTBAH JUMAT ISTIQAMAH DALAM MENGAMALKAN SUNNAH UNTUK MERAIH RIDHA ALLAH

TEKS KHUTBAH JUMAT

ISTIQAMAH DALAM MENGAMALKAN SUNNAH UNTUK MERAIH RIDHA ALLAH

OLEH DR. DERYSMONO, B.SH., S.PD.I., M.A.

KHUTBAH PERTAMA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atas limpahan rahmat, nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, serta kesempatan yang Allah berikan, pada hari yang agung ini kita dapat berkumpul di rumah-Nya untuk menunaikan ibadah shalat Jumat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga seluruh umat beliau yang istiqamah mengikuti sunnahnya sampai Hari Kiamat.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi diwujudkan dalam ketaatan kepada Allah, kecintaan kepada Rasul-Nya, serta kesungguhan mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ»

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Tema khutbah kita pada hari ini adalah “Istiqamah dalam Mengamalkan Sunnah untuk Meraih Ridha Allah.”

Istiqamah adalah salah satu amal hati yang paling berat, namun sekaligus paling dicintai Allah. Banyak orang mampu beribadah ketika semangatnya sedang tinggi. Banyak pula yang rajin ketika suasana mendukung. Akan tetapi, orang yang benar-benar dicintai Allah adalah mereka yang tetap taat dalam segala keadaan: ketika lapang maupun sempit, sehat maupun sakit, dipuji ataupun dicela.

Oleh sebab itu, setelah seseorang memperoleh hidayah, tantangan berikutnya adalah menjaga hidayah tersebut agar tidak hilang. Tidak sedikit orang yang dahulu rajin ke masjid, kemudian mulai lalai. Dahulu rajin mengaji, lalu sibuk dengan urusan dunia. Dahulu gemar bersedekah, namun kemudian cintanya kepada harta mengalahkan kecintaannya kepada Allah.

Karena itulah Allah memuji orang-orang yang istiqamah. Firman-Nya:

«إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ»

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: Jangan takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30)

Para ulama menjelaskan bahwa istiqamah berarti terus berada di atas jalan Allah tanpa menyimpang ke kanan maupun ke kiri. Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa istiqamah adalah tetap teguh dalam menjalankan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, dan tidak berpaling dari jalan yang lurus.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Salah satu bentuk istiqamah yang paling nyata adalah istiqamah mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Sunnah bukan hanya perkara ibadah seperti shalat sunnah atau puasa sunnah, tetapi mencakup seluruh ajaran dan keteladanan Rasulullah ﷺ.

Allah berfirman:

«لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا»

“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang terbaik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Mengikuti sunnah berarti menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam ibadah, akhlak, keluarga, perdagangan, kepemimpinan, dakwah, dan seluruh aspek kehidupan.

Sebagian orang mengira bahwa mengikuti sunnah hanyalah memakai pakaian tertentu atau melakukan amalan-amalan tambahan. Padahal hakikat sunnah jauh lebih luas. Sunnah adalah kejujuran beliau, amanah beliau, kasih sayang beliau kepada sesama, kelembutan beliau kepada anak-anak, penghormatan beliau kepada orang tua, kepedulian beliau kepada fakir miskin, dan kesabaran beliau dalam menghadapi ujian.

Inilah sunnah yang harus kita hidupkan di tengah keluarga, masyarakat, dan lingkungan kerja kita. Jika setiap muslim berusaha meneladani akhlak Rasulullah ﷺ, niscaya kehidupan umat akan dipenuhi kedamaian, persaudaraan, dan keberkahan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Keistimewaan istiqamah begitu besar sehingga ketika ada seorang sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ meminta satu nasihat yang mencakup seluruh ajaran Islam, beliau tidak memberikan nasihat yang panjang, tetapi cukup dengan satu kalimat yang singkat namun sangat mendalam.

Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ، قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ»

Artinya:

“Aku berkata: Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam yang setelah itu aku tidak perlu lagi bertanya kepada siapa pun. Beliau menjawab: Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa setelah iman tertanam dalam hati, tugas berikutnya adalah menjaga agar iman itu tetap hidup hingga akhir hayat. Iman tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan dengan amal saleh yang terus-menerus.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Istiqamah bukan berarti seseorang tidak pernah berbuat salah. Setiap manusia memiliki kekurangan. Akan tetapi, orang yang istiqamah adalah mereka yang ketika tergelincir dalam dosa segera kembali kepada Allah dengan taubat, memperbaiki diri, dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa hati manusia bagaikan cermin. Setiap dosa akan meninggalkan noda hitam. Bila seseorang segera bertobat, noda itu dibersihkan. Namun bila dosa terus dilakukan tanpa taubat, hati akan mengeras sehingga sulit menerima cahaya hidayah.

Karena itu, seorang mukmin hendaknya setiap hari memperbanyak istighfar. Rasulullah ﷺ sendiri, padahal beliau ma’shum dan dijamin dosanya diampuni, tetap beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa menjaga hubungan dengan Allah adalah kunci istiqamah.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Di antara penyebab seseorang mampu istiqamah adalah kecintaannya kepada sunnah Rasulullah ﷺ. Sunnah adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Sunnah bukan beban, melainkan jalan menuju kemudahan dan keberkahan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ»

“Barang siapa menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku. Dan barang siapa mencintaiku, kelak ia akan bersamaku di surga.”

Walaupun para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan sanad hadis ini, maknanya sejalan dengan banyak hadis sahih yang memerintahkan umat Islam untuk mengikuti Rasulullah ﷺ dan mencintai beliau.

Allah Ta’ala berfirman:

«قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ»

“Katakanlah (Muhammad): Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Ayat ini dikenal oleh para ulama sebagai Ayatul Mahabbah, ayat tentang cinta kepada Allah. Bukti cinta kepada Allah bukan sekadar ucapan, tetapi mengikuti Rasulullah ﷺ dalam keyakinan, ibadah, akhlak, dan muamalah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita melihat bagaimana para sahabat menjaga istiqamah.

Ketika Rasulullah ﷺ wafat, kaum muslimin diliputi kesedihan yang luar biasa. Banyak yang tidak percaya bahwa Rasulullah telah meninggal dunia. Bahkan Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berdiri dengan pedang terhunus dan berkata bahwa siapa pun yang mengatakan Rasulullah wafat akan dipenggal.

Namun Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu tampil menenangkan umat. Beliau membacakan firman Allah:

«وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ»

“Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh kamu akan berbalik ke belakang?” (QS. Ali ‘Imran: 144)

Kemudian Abu Bakar berkata dengan kalimat yang sangat masyhur:

«مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ»

“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Tetapi barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.”

Inilah contoh istiqamah. Mereka tidak berhenti berjuang meskipun kehilangan manusia yang paling mereka cintai. Mereka tetap melanjutkan dakwah, menjaga sunnah, dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada zaman sekarang, tantangan istiqamah semakin besar. Godaan datang dari berbagai arah. Kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi juga membuka pintu-pintu maksiat apabila tidak digunakan dengan bijak.

Media sosial sering kali melalaikan manusia dari mengingat Allah. Waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca Al-Qur’an habis untuk melihat hal-hal yang tidak bermanfaat. Lisan yang dahulu dijaga, kini berubah menjadi jari-jari yang mudah menyebarkan fitnah, kebencian, dan berita bohong.

Karena itu, marilah kita menjadikan teknologi sebagai sarana dakwah, silaturahmi, menuntut ilmu, dan menyebarkan kebaikan. Jangan sampai nikmat yang Allah berikan justru menjadi sebab datangnya penyesalan pada Hari Kiamat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa istiqamah, mencintai sunnah Rasulullah ﷺ, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Apabila kita ingin istiqamah di atas sunnah Rasulullah ﷺ, maka para ulama menyebutkan beberapa amalan yang hendaknya selalu kita jaga.

Pertama, menjaga shalat lima waktu secara berjamaah.

Shalat adalah tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Orang yang menjaga shalatnya, insya Allah akan lebih mudah menjaga amalan-amalan yang lain.

Allah Ta’ala berfirman:

«إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ»

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Karena itu, marilah kita makmurkan masjid. Jangan biarkan azan berkumandang sementara kita masih sibuk dengan urusan dunia. Rasulullah ﷺ sangat menekankan keutamaan shalat berjamaah sehingga beliau bersabda:

«صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً»

“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari.

Al-Qur’an adalah petunjuk hidup. Hati yang setiap hari disinari Al-Qur’an akan lebih mudah menerima nasihat dan lebih kuat menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ»

“Bacalah Al-Qur’an, karena kelak pada hari kiamat ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim)

Tidak harus banyak. Satu halaman setiap hari lebih baik daripada semangat membaca satu juz lalu berhenti berhari-hari. Inilah makna istiqamah yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Ketiga, menjaga zikir pagi dan petang serta memperbanyak istighfar.

Lisan yang selalu basah dengan zikir akan menjaga hati dari kelalaian. Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari berkata:

«”Jangan tinggalkan zikir hanya karena engkau belum merasakan hadirnya hati. Sebab kelalaian dari zikir lebih buruk daripada zikir dalam keadaan lalai.”»

Oleh sebab itu, biasakan mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar, dan memperbanyak istighfar dalam setiap kesempatan.

Keempat, menjaga akhlak yang mulia.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Banyak orang rajin beribadah, tetapi lisannya menyakiti orang lain. Banyak yang rajin ke masjid, tetapi masih gemar memfitnah, mengadu domba, dan memutus tali silaturahmi. Padahal Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Beliau bersabda:

«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ»

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Maka, jadilah muslim yang ramah, santun, jujur, amanah, dan pemaaf. Jangan mudah mencela, merendahkan, ataupun menyebarkan kebencian.

Kelima, bersahabat dengan orang-orang saleh.

Lingkungan yang baik akan membantu kita menjaga keimanan. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat menyeret seseorang kepada kemaksiatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»

“Seseorang akan mengikuti agama sahabat dekatnya. Maka hendaklah setiap kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Karena itu, hadirkan diri dalam majelis ilmu, majelis zikir, dan lingkungan yang mengingatkan kita kepada Allah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah berpesan:

«”Apabila engkau menginginkan akhir hidup yang baik, maka biasakanlah melakukan kebaikan sejak sekarang. Sebab seseorang akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaannya, dan akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan ketika ia meninggal.”»

Betapa banyak orang yang berharap husnul khatimah, tetapi belum membiasakan amal saleh dalam kesehariannya. Husnul khatimah bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan buah dari istiqamah dalam menaati Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu, marilah kita mulai dari hal-hal kecil namun terus kita jaga. Senyum kepada saudara kita adalah sunnah. Menjawab salam adalah sunnah. Membantu tetangga adalah sunnah. Memuliakan tamu adalah sunnah. Menjaga amanah adalah sunnah. Semua itu, apabila dilakukan dengan ikhlas, akan menjadi sebab turunnya rahmat dan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah, yang mencintai Rasulullah ﷺ, menghidupkan sunnahnya, serta dikumpulkan bersama beliau di surga Firdaus.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah kedua
الخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحبُّ ربُّنا ويرضى، وأشهدُ أن لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أنَّ سيدَنا محمدًا عبدُه ورسولُه، اللهمَّ صلِّ وسلِّم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وأصحابه، ومن تبعهم بإحسانٍ إلى يوم الدين.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

اللهمَّ اجعلنا من عبادِكَ المتقين، ومن عبادِكَ الصالحين، وثبِّت قلوبَنا على دينِكَ، وأعنَّا على طاعتِكَ، واجعلنا من المتمسكين بكتابِكَ، المتبعين لسنةِ نبيِّكَ محمدٍ صلى الله عليه وسلم.

اللهمَّ ارزقنا الإخلاصَ في القولِ والعمل، والصدقَ في السرِّ والعلن، والاستقامةَ على دينِكَ حتى نلقاكَ وأنتَ راضٍ عنَّا.

اللهمَّ اغفر للمؤمنين والمؤمنات، والمسلمين والمسلمات، الأحياءِ منهم والأموات، إنكَ سميعٌ قريبٌ مجيبُ الدعوات.

اللهمَّ أصلح ولاةَ أمورِنا، ووفِّقهم لما تحبُّ وترضى، واجعل هذا البلدَ آمناً مطمئناً، سخاءً رخاءً، وسائرَ بلادِ المسلمين.

اللهمَّ انصر الإسلامَ والمسلمين، وأعزَّ الإسلامَ والمسلمين، وأعلِ بفضلكَ كلمةَ الحقِّ والدين.

اللهمَّ انصر إخوانَنا المستضعفين في فلسطين، وفي غزة، وفي كلِّ مكان، اللهمَّ ثبِّت أقدامَهم، واربط على قلوبِهم، واشفِ جرحاهم، وارحم شهداءَهم، وفكَّ أسرَهم، واكفِهم شرَّ أعدائِهم، واجعل لهم من لدنكَ سلطانًا نصيرًا.

اللهمَّ ادفع عنَّا الغلاءَ والوباءَ والربا والزنا والزلازلَ والمحنَ وسوءَ الفتنِ ما ظهر منها وما بطن، عن بلدِنا هذا خاصةً، وعن سائرِ بلادِ المسلمين عامةً، برحمتِكَ يا أرحمَ الراحمين.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *