TEKS KHUTBAH JUM’AT  “MERAIH KEUTAMAAN IHSAN DALAM BERIBADAH”
5 mins read

TEKS KHUTBAH JUM’AT “MERAIH KEUTAMAAN IHSAN DALAM BERIBADAH”

TEKS KHUTBAH JUM’AT

MERAIH KEUTAMAAN IHSAN DALAM BERIBADAH

Oleh:

Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.

Ketua Umum PP Himpunan Dai Muda Indonesia, Wakil Ketua 1 STAI DI Al-Hikmah Jakarta, CEO adausatdzh.com, Pembina Ma’had Aly RQA, Kacab Safana Tour and travel

Edisi ke-60 November 2026TEKS KHUTBAH JUM’AT

 

TEKS KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 102).

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang telah menganugerahkan nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk beribadah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Khatib mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan tema “Meraih Keutamaan Ihsan dalam Beribadah”.

MAKNA IHSAN: BERIBADAH DENGAN KESADARAN AKAN ALLAH

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ihsan berarti berbuat sebaik-baiknya. Dalam ibadah, ihsan bukan sekadar memperbanyak amalan, tetapi menghadirkan hati, keikhlasan, dan kesungguhan dalam menunaikannya. Rasulullah ﷺ menjelaskan ihsan dalam hadis Jibril:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim, no. 8).

Inilah inti ihsan: merasa diawasi Allah dalam setiap keadaan. Ketika berdiri untuk shalat, kita sadar sedang menghadap Allah. Ketika bersedekah, kita tidak mengejar pujian manusia. Ketika berpuasa, kita menjaga diri sekalipun tidak ada orang yang melihat.

Sufyan bin Uyainah berkata

قال ابن عيينة: (سئل علي رضي الله عنه عن قول الله تعالى: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ [النحل: ٩٠] فقال: العدل: الإنصاف، والإحسان: التفضّل) (١).

Sufyan bin Uyainah berkata:

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya tentang firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan (kebajikan).” (QS. An-Nahl: 90).

Beliau menjawab, “Adil adalah bersikap objektif dan memberikan hak secara proporsional, sedangkan ihsan adalah memberikan kebaikan dan kemurahan yang lebih dari sekadar kewajiban.”[1]

IHSAN ADALAH PERINTAH ALLAH

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat.” (QS. An-Nahl [16]: 90).

Perintah ihsan meliputi hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia. Seorang mukmin tidak cukup merasa puas hanya karena telah menggugurkan kewajiban. Ia berusaha menyempurnakan adab, menjaga niat, dan menunaikan ibadah dengan penuh tanggung jawab.

Imam Hasan al-basri mengatakan seputar ayat ini:
“Sesungguhnya Allah telah menghimpun seluruh kebaikan dan seluruh keburukan bagi kalian dalam satu ayat. Demi Allah, tidak ada satu pun bentuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla yang tidak tercakup dalam perintah berlaku adil dan berbuat ihsan. Demikian pula, tidak ada satu pun bentuk kemaksiatan kepada Allah yang tidak tercakup dalam larangan berbuat keji, kemungkaran, dan kezaliman.”[2]

TIGA JALAN MERAIH IHSAN DALAM IBADAH

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pertama, meluruskan niat dan menjaga keikhlasan. Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5).

Amal yang tampak besar bisa kehilangan nilainya apabila dikerjakan demi sanjungan. Sebaliknya, amal sederhana yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi sebab datangnya rahmat Allah. Karena itu, periksalah niat sebelum, saat, dan sesudah beramal.

Kedua, memperbaiki kualitas ibadah sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Shalat tidak hanya tentang gerakan, melainkan juga kekhusyukan, ketenangan, dan pemahaman terhadap bacaan. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 1–2).

Ketiga, istiqamah dalam amal saleh. Ihsan dibangun melalui kebiasaan yang terus diperbaiki: shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an dengan tadabur, menjaga lisan, menunaikan amanah, dan membantu orang yang membutuhkan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin meskipun sedikit (HR. Al-Bukhari, no. 6464; Muslim, no. 783).

BUAH IHSAN: CINTA DAN PERTOLONGAN ALLAH

Allah berfirman:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195).

Betapa agung kedudukan orang yang berihsan: ia berusaha memperoleh cinta Allah, bukan sekadar pengakuan manusia. Ihsan juga menumbuhkan kejujuran ketika bekerja, kesabaran ketika diuji, dan kelembutan ketika bergaul. Dengan demikian, mutu ibadah tercermin dalam kemuliaan akhlak.

Ihsan pula dapat membahagiakan hati, melapangkan dada, mendatangkan berbagai kenikmatan, dan menolak berbagai musibah. Sebaliknya, meninggalkan ihsan dapat mendatangkan kehinaan dan kesempitan serta menghalangi datangnya berbagai kenikmatan kepada seseorang. Sifat pengecut merupakan bentuk meninggalkan ihsan dengan anggota badan, sedangkan sifat kikir merupakan bentuk meninggalkan ihsan dengan harta.”

قال ابن القيم : فإن الإحسان يفرح القلب ويشرح الصدر ويجلب النعم ويدفع النقم وتركه يوجب الضيم والضيق ويمنع وصول النعم إليه فالجبن ترك الإحسان بالبدن والبخل ترك الإحسان بالمال)[3]

Selain itu, ihsan dalam ibadah adalah kunci meraih Rahmat Allah swt, Ibnul Qayyim pernah mengatakan.

وقال ابن القيم: (مفتاح حصول الرحمة الإحسان في عبادة الخالق والسعي في نفع عبيده)

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

“Kunci untuk memperoleh rahmat Allah adalah dengan berbuat ihsan dalam beribadah kepada Sang Pencipta dan berusaha memberikan manfaat kepada hamba-hamba-Nya.”[4]

Marilah kita memulai dari hal yang dekat: shalat dengan lebih khusyuk, berzikir dengan hati yang hadir, berinfak tanpa riya, serta menjaga hak keluarga dan tetangga. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang muhsinin.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

 

TEKS KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُحْسِنِينَ الْمُخْلِصِينَ، وَارْزُقْنَا الْخُشُوعَ فِي صَلَاتِنَا، وَالْإِخْلَاصَ فِي أَعْمَالِنَا، وَالثَّبَاتَ عَلَى طَاعَتِكَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَاحْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا وَأَهْلَهَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

[1] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’, jilid 7, halaman 291.

[2] Kitab Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim, jilid 2, halaman 158.

[3] Kitab Thariqul Hijratain karya Ibnu Qayyim, halaman 460.

[4] Kitab Hadi Al-Arwah karya Ibnu Qayyim, halaman 66.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *