Teks Khutbah Jum’at “Memaksimalkan Kebaikan Pada Bulan Rajab”
Khutbah Jum’at
“Memaksimalkan Kebaikan Pada Bulan Rajab”
Oleh Dr. Derysmono Lc, S.Pd.I., M.A.
(Wakil Ketua 1 STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta, CEO adaustadzh.com, Sekum PP HDMI, Direktur Ma’had Aly Raudhotul Qur’an Azzam Sako Banyuasin)
Khutbah Ke-I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
Hadirin Jama’ah Shalat Jum’ah yang berbahagia
Marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang Maha Pengampun dan Maha Pengasih, Dialah Allah senantiasa memberikan momentum dan kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk memperbaiki diri, yaitu melalui adanya syariat ibadah harian, pekanan, bulanan, tahunan. Hal itu dapat kita gunakan dalam meraih ampunan dan ridho Allah SWT aamiiin Ya Rabbal A’lamin.
Shalawat dan salam kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang hari-harinya diisi oleh ketauladanan buat umatnya, sehingga kita tidak kehabisan cara dan contoh dari kehidupan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, termasuk bagaimana kita menjalani bulan Rajab ini yang akan menjelang bulan Sya’ban lalu Ramadhan, Semoga Shalawat dan salam puna terhaturkan kepada keluarga beliau, sahabat serta pengikutnya sampai akhir kiamat kelak.
Hadirin Jama’ah Shalat Jum’ah yang berbahagia
Khatib berwasiat kepada diri dan hadirin agar tetap berusaha untuk terus menjaga konsistensi ketaqwaan, kesabaran dan totalitas dalam meraih ridho Allah SWT. Semoga memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita agar kita dimudahkan dalam menjalankan ibadah dan syariat-Nya.
Hadirin Jama’ah Shalat Jum’ah yang berbahagia
Izinkan khatib pada kesempatan kali ini menyampaikan khutbah dengan tema : “Memaksimalkan Kebaikan Pada Bulan Rajab”
Hadirin Jama’ah Shalat Jum’ah yang berbahagia
Begitu mulianya dan utamanya bulan Rajab sehingga Allah SWT mengkhususkan ada 4 bulan yang tidak boleh adanya kezhaliman dan peperangan di dalamnya.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
Bulan Rajab termasuk bulan suci, sehingga seorang muslim hendaknya mengisi bulan ini dengan Ibadah, Dzikir kepada Allah lebih semangat dan banyak ketimbang biasanya. Keutamaan bulan Rajab juga disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)[1]
Hadirin yang dirahmati Allah swt
Lalu bagaimana agar kita mendapatkan kemuliaan dan keutamaan di bulan Rajab?
Pertama : Perbanyak puasa Sunnah di Bulan Rajab
Para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum wa radhu anhu menceritakan bagaimana Nabi Shalallah ‘Alaihi Wasallam melakukan puasa Sunnah di bulan Rajab.
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ
Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Hakim Al Anshari] ia berkata; Saya bertanya kepada [Sa’id bin Jubair] mengenai puasa RAJAB, dan saat itu kami berada di bulan. Maka ia pun menjawab; Saya telah mendengar [Ibnu Abbas] radliallahu ‘anhuma berkata; Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa hingga kami berkata berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.”[2]
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim mengomentari hadits di atas dengan mengatakan, “Secara lahiriah, yang dimaksud sahabat Sa’id bin Jubair dengan pengambilan hadits ini sebagai dalil adalah bahwa tidak ada nash yang menyatakan sunnah atau pun melarang secara khusus terkait puasa Rajab. Karenanya, ia masuk dalam hukum puasa pada bulan-bulan yang lain. Tidak ada satu pun hadits tsâbit terkait puasa Rajab, baik anjuran maupun larangan. Akan tetapi, hukum asal puasa adalah disunnahkan. Dalam Sunan Abu Dawud bahwa Rasulullah SAW menyatakan kesunnahan puasa pada bulan-balan harâm (al-Asyhur al-Hurum, empat bulan yang dimuliakan), dan Rajab adalah salah satunya. Wallahu a’lam.”[3]
Sedangkan Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ menyatakan bahwa meskipun hadits-hadits mengenai keutamaan puasa Rajab tidak ada yang sahih, tapi bukan berarti semuanya palsu. Menurutnya, di antara hadits-hadits tersebut ada yang tidak palsu, melainkan berstatus dha’if dan boleh diamalkan dalam fadhâ’ilul a’mâl (keutamaan amal-amal kebaikan).
Begitu banyak Puasa yang dapat kita lakukan pada bulan Rajab, dari puasa Sunnah senin dan kamis, puasa daud dan ada juga puasa ayyam bidh, puasa yang dipesankan langsung oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW sebagaimana sabda beliau.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”[4]
Hadirin yang berbahagia
Adapun amalan kedua : Berkurban pada bulan Rajab
Hal ini berdasarkan hadist Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
عَنْ حَبِيبِ بْنِ مِخْنَفٍ قَالَ انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ قَالَ وَهُوَ يَقُولُ هَلْ تَعْرِفُونَهَا قَالَ فَمَا أَدْرِي مَا رَجَعُوا عَلَيْهِ قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى كُلِّ بَيْتٍ أَنْ يَذْبَحُوا شَاةً فِي كُلِّ رَجَبٍ وَكُلِّ أَضْحَى شَاةً
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq], telah menceritakan kepada kami [Ibnu Juraij], telah mengabarkan kepadaku [Abdul Karim] dari [Habib bin Mikhnaf] IA berkata; Aku menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di hari Arafah, lalu beliau bertanya; “Tahukah kalian?.” Dia berkata; ‘Aku tidak mengerti apa yang mereka kembalikan.” Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Hendaklah setiap rumah menyembelih seekor kambing di setiap bulan RAJAB dan hari Adha (Dzulhijjah) seekor kambing juga.”[5]
والصحيح عند أصحابنا وهو نص الشافعي استحباب العتيرة
Artinya,“Dan pendapat yang sahih menurut ashab kita juga ketetapan imam asy-Syafi’I adalah sunnah ‘athirah,”[6].
Bolehnya berkurban pada bulan Rajab merupakan pendapat imam As-Syafi’i. adapun ulama lainnya yatiu kebanyakan ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah mengatakan bahwa ‘athirah atau kurban di bulan Rajab sudah digantikan oleh kurban di bulan Idul Adha.
Hadirin yang dirahmati Allah swt
Ketiga : Memperbanyak Amal dan Meninggalkan Keburukan
Dzu An-Nun Al-Mishri, rahimahullah, berkata:
وقال ذو النُّونِ المِصْرِيُّ – رَحِمَهُ اللهُ – :
رَجَبٌ لِتَرْكِ الآفَاتِ، وشَعْبَانُ لِاسْتِعْمَالِ الطَّاعَاتِ، ورَمَضَانُ لِانْتِظَارِ الكَرَامَاتِ، فَمَنْ لَمْ يَتْرُكِ الآفَاتِ، وَلَمْ يَسْتَعْمِلِ الطَّاعَاتِ، وَلَمْ يَنْتَظِرِ الكَرَامَاتِ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ التُّرَّهَاتِ.
“Rajab adalah bulan untuk meninggalkan segala keburukan, Sya’ban adalah bulan untuk memperbanyak ketaatan, dan Ramadhan adalah bulan untuk menanti kemuliaan. Maka, barang siapa tidak meninggalkan keburukan, tidak memperbanyak ketaatan, dan tidak menanti kemuliaan, ia termasuk golongan orang-orang yang sia-sia.”[7]
Adapun perkataan sejalan dengan apa yang disampaikan Allah swt dalam QS.At Taubah: 36 yakni
فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat (bulan Haram) itu.”
Hadirin yang dirahmati Allah
Ibarat ladang, maka bulan rajab adalah ladang berbuat baik dan meningkatkan keataan kepada Allah.
وقال أيضًا – رَحِمَهُ اللهُ -:
رَجَبٌ شَهْرُ الزَّرْعِ، وشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ، ورَمَضَانُ شَهْرُ الحَصَادِ، وكُلٌّ يَحْصُدُ مَا زَرَعَ، ويُجْزَى مَا صَنَعَ، وَمَنْ ضَيَّعَ الزِّرَاعَةَ نَدِمَ يَوْمَ حَصَادِهِ، وَأَخْلَفَ ظَنَّهُ مَعَ سُوءِ مَعَادِهِ.
“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan menyiram, dan Ramadhan adalah bulan panen. Setiap orang akan memanen apa yang ditanamnya dan diberi balasan atas apa yang dilakukannya. Barang siapa yang menyia-nyiakan masa menanam, ia akan menyesal pada hari panennya, dan harapannya akan berbalik menjadi kekecewaan dengan nasib akhir yang buruk.”
Jangan sampai kita menyesal karena tidak memaksimalkan kesempatan berada di bulan Rajab.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
[1] Sahih Al-Bukhari 3197 • [Sahih] • Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3197) dan Muslim (1679) lihat juga https://muslim.or.id/853-amalan-di-bulan-rajab.html
[2] Shahih Muslim hadis nomor 1960 Terjemah hadits dinukil dari https://carihadis.com/Shahih_Muslim/=RAJAB pada tanggal 25 Februari 2021 pukul.10.00
[3] https://mui.or.id/baca/berita/khutbah-jumat-keutamaan-dan-peristiwa-penting-bulan-rajab, pada tanggal 17 Januari 2025 pukul.10.00
[4] HR. Bukhari no. 1178.
[5] Musnad Ahmad hadis nomor 19804. Terjemah Hadits dinukil dari https://carihadis.com/Musnad_Ahmad/=RAJAB
[6] An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim [Beirut: Dar Ihya’ Turats, 1998], juz III, halaman 137
[7] https://islamqa.info/ar/answers/332295/%D8%B1%D8%AC%D8%A8-%D8%B4%D9%87%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D8%B2%D8%B1%D8%B9, diakses pada tanggal 17 Januari 2025
