Teks Khutbah Jum’at “Renungan Akhir Tahun 2025: Waktu kita Tak Akan Kembali”
9 mins read

Teks Khutbah Jum’at “Renungan Akhir Tahun 2025: Waktu kita Tak Akan Kembali”

Teks Khutbah Jum’at

Renungan Akhir Tahun 2025: Waktu kita Tak Akan Kembali”

Oleh Dr. Derysmono, B.Sh., S.Pd.I., M.A.

(Wakil Ketua 1 STAI  Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta, CEO adaustadzh.com, Direktur surat kabar lintasiman.com,  Ketua Harian PP HDMI, Direktur Ma’had Aly Raudhotul Qur’an Azzam Sako Banyuasin)

 

Khutbah ke-1

 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

 

Hadirin Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan banyak nikmat dan anugrah kepada kita, bil khusus telah memberikan nikmat paling khusus, yaitu nikmat Islam dan iman. Mari kita senantiasa syukuri dan nikmati.

Sholawat dan salam senantiasa kita sampaikan untuk kepada Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau adalah teladan sejati dalam menjadi ayah bagi anak-anaknya, teladan terbaik menjadi suami bagi istrinya, teladan kepemimpinan kepada umatnya. Semoga kelak dapat berjumpa dengan Rasulullah saw di surga-Nya Allah swt. Aamiiin.

Hadirin yang dirahmati Allah

Pada kesempatan kali ini izinkan juga Khatib menyampaikan nasehat dan wasiat bagi diri khotib dan kepada hadirin yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah rasa sayang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala takut kepada azabnya Allah dan senantiasa mengikuti dan melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi larangan-larangannya.

Hadirin yang dirahmati Allah

Izinkan khotib Pada kesempatan kali ini menyampaikan suatu tema yaitu Renungan Akhir Tahun : Waktu kita Tak Akan Kembali.

Hadirin yang dirahmati Allah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Khutbah hari ini mengingatkan kita pada satu kenyataan besar dalam hidup, yaitu waktu tak akan pernah kembali.

Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari umur kita yang terus berkurang dan tidak mungkin diulang kembali.

Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِۙ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–2)

Ayat ini menegaskan bahwa kerugian terbesar manusia adalah menyia-nyiakan waktu. Banyak manusia tertipu oleh panjang angan-angan, seakan-akan hidup masih lama, padahal setiap hari kita justru semakin dekat kepada ajal.

Syaikh As-Sa’adi menjelaskan maksud kerugian tersebut “Kerugian itu memiliki tingkatan-tingkatan yang beragam dan bertingkat-tingkat.Ada kerugian yang bersifat mutlak, seperti keadaan orang yang merugi di dunia dan akhirat, kehilangan kenikmatan, serta berhak mendapatkan siksa neraka. Ada pula orang yang merugi dari sebagian sisi namun tidak dari sisi yang lain. Oleh karena itu, Allah menggeneralisasi kerugian bagi setiap manusia.”[1]

Begitu pentingnya kita saling mengingatkan akan waktu ini para sahabat Nabi saw pun senantiasa saling membacakan ayat ini kepada sesama mereka.

Ath-Thabrānī meriwayatkan dari ‘Ubaidullāh bin af, ia berkata: “Dahulu apabila dua orang dari sahabat Rasulullah bertemu, mereka tidak berpisah hingga salah satu dari keduanya membacakan kepada yang lain Surah al-‘Ashr hingga selesai, kemudian salah satu dari keduanya mengucapkan salam kepada yang lain.” Riwayat ini juga dikeluarkan oleh al-Baihaqī dari Abū udhayfah.[2]

Imam asy-Syāfi‘ī رحمه الله berkata: “Seandainya manusia mau mentadabburi surah ini, niscaya surah ini telah mencukupi mereka.”

Begitu pentingnya waktu Al-Qur’an menggunakan berbagai istilah yang menunjukkan konsep waktu dengan makna dan konteks yang beragam. Di antaranya adalah ghadāh, ‘ar, bukrah, aīlā, ‘ashiyyah, ‘isya’, layl, nahār, yawm, syahr, ‘ām, sanah, waqt, dahr, ajal, sā‘ah, dan īn. Keragaman istilah ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memandang waktu sebagai realitas yang multidimensional, mencakup dimensi harian, periodik, hingga batas akhir kehidupan manusia.[3]

Apalagi di masa liburan dan pergantian tahun, tidak sedikit orang yang lalai. Waktu dihabiskan untuk hal yang sia-sia, bahkan kemaksiatan, tanpa disadari bahwa usia terus berjalan menuju batasnya.

Allah SWT mengingatkan:

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat menundanya walau sesaat pun dan tidak pula memajukannya.”
(QS. Al-A’raf: 34)

Syaikh Fakhruddin Ar-Razi mengungkapkan bahwa “Allah swt menjelaskan bahwa setiap orang memiliki ajal yang telah ditentukan, yang tidak dapat dimajukan dan tidak pula diundur. Apabila ajal itu telah datang, maka ia pasti akan mati tanpa keraguan. Tujuan penjelasan ini adalah untuk menimbulkan rasa takut (peringatan), agar seseorang bersungguh-sungguh dan lebih menegaskan diri dalam menunaikan kewajiban-kewajiban syariat sebagaimana mestinya.[4]

Beliau melajutkan : “Mereka tidak dapat menundanya walau sesaat pun dan tidak pula memajukannya.” Yang dimaksud adalah bahwa mereka tidak dapat menunda dari ajal yang telah ditentukan itu, tidak dengan satu jam dan tidak pula dengan waktu yang lebih singkat dari satu jam. Akan tetapi Allah Ta‘ālā menyebut kata ‘satu jam’ (sā‘ah) karena lafaz tersebut merupakan nama waktu yang paling kecil (paling singkat) dalam ungkapan kebahasaan.”

Jamaah yang dirahmati Allah,
Pergantian waktu seharusnya menjadi cermin muhasabah, bukan sekadar pergantian angka. Sudahkah waktu yang Allah berikan kita isi dengan ketaatan? Sudahkah umur kita mendekatkan diri kepada surga, atau justru menjauhkan?

Sungguh, waktu yang berlalu akan menjadi saksi, apakah ia diisi dengan amal shalih atau dengan kelalaian.

Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dalam sebuah hadits yang sangat masyhur:

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Al-Hakim)

Hadits ini menegaskan bahwa kesempatan hidup tidak datang dua kali. Waktu luang, usia, dan kesehatan adalah nikmat yang sering dilupakan, padahal kelak semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Oleh karena itu, jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita isi sisa umur ini dengan:

  1. Memperbaiki kualitas shalat dan ibadah

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ

“Amal pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat.”
(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

2. Memperbanyak taubat sebelum ajal datang

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.”
(QS. an-Nūr: 31)

3.  Mengisi waktu dengan amal shalih dan manfaat

Syaikh As-Sa’di Mengatakan:

Allah menggeneralisasi kerugian bagi setiap manusia, kecuali bagi mereka yang memiliki empat sifat: (1) Beriman kepada apa yang Allah perintahkan untuk diimani. Iman tidak akan terwujud tanpa ilmu, karena iman merupakan cabang darinya dan tidak akan sempurna kecuali dengan ilmu.
(2) Beramal shalih. Hal ini mencakup seluruh perbuatan kebaikan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang berkaitan dengan hak Allah dan hak hamba-hamba-Nya, baik yang wajib maupun yang sunnah.
(3) Saling menasihati dalam kebenaran, yaitu iman dan amal shalih; maksudnya sebagian mereka menasihati sebagian yang lain, mendorong dan memotivasi untuk melakukannya. (4) Saling menasihati dalam kesabaran, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar menjauhi maksiat kepada Allah, dan sabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan.[5]

4. Menjaga keluarga dari kelalaian dan maksiat

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. at-Taḥrīm: 6)

5.. Menjadikan setiap hari lebih baik dari hari kemarin

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. al-Ḥasyr: 18)

Salah satu tanda keimanan seorang Muslim adalah kemampuannya dalam menghargai dan mengelola waktu secara optimal. Seorang Muslim memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk memanfaatkan waktu secara efektif, baik dalam menjalankan kewajiban ibadah maupun dalam melakukan berbagai amal kebaikan. Dalam perspektif Islam, kesadaran terhadap nilai waktu merupakan cerminan ketakwaan serta kedewasaan spiritual seseorang, karena waktu adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.[6]

Jangan sampai kita menyesal di akhir hayat seraya berkata, “Seandainya aku diberi waktu lagi.” Karena waktu tak akan pernah kembali.

Ingat seorang penyair arab Ahmad Syauqi pernah mengatakan

دَقَّاتُ قَلْبِ الْمَرْءِ قَائِلَةٌ لَهُ:

إِنَّ الْحَيَاةَ دَقَائِقُ وَثَوَانٍ،

فَارْفَعْ لِنَفْسِكَ بَعْدَ مَوْتِكَ ذِكْرًا،

فَالذِّكْرُ لِلْإِنْسَانِ عُمْرٌ ثَانٍ.

Detak jantung seseorang berkata kepadanya:
Sesungguhnya hidup ini hanyalah menit dan detik.
Maka angkatlah (bangunlah) untuk dirimu setelah kematianmu sebuah kenangan,
karena kenangan (amal baik dan nama yang harum) bagi manusia adalah umur yang kedua.

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا   أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ   اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

 

Referensi

[1] ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān (Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1420 H), hlm. 934.

[2] Wahbah az-Zuḥailī, Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, Jilid 30 (Damaskus: Dār al-Fikr, 1991), hlm. 391.

[3] Luluul Wardah, Konsep Waktu dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Tematik), skripsi, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo, 2018.

[4] Fakhr ad-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghaib aw at-Tafsīr al-Kabīr, jilid 14 (Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turāṡ al-‘Arabī, t.t.), hlm. 234.

[5] ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān (Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1420 H), hlm. 934.

[6] Nur Azizatul Haqiah, Et.al., “Konsep Pengelolaan Waktu Menurut Al-Qur’an dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern,” Al-Risalah: Jurnal Ilmiah (ARJI), Vol. 7, No. 4 (2025), E-ISSN: 2775-0787, P-ISSN: 2774-9290, https://journal.nahnuinisiatif.com/index.php/ARJI, DOI: 10.61227.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *